Senin, 21 Desember 2009

*~ Wanita Menangis ~*

بسم الله الرحمن الرحيم




Suatu ketika, ada seorang anak lelaki yang bertanya kepada ibunya.




"Ibu, mengapa ibu menangis?"



Ibunya menjawab, "Sebab ibu wanita."



Dia tidak mengerti, kata si anak lagi.

Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.



"Nak, kamu memang tidak akan mengerti..."



Kemudian, anak itu bertanya kepada ayahnya.



"Ayah, mengapa ibu menangis?"



Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan."



Hanya itu jawapan yang dapat diberikan oleh ayahnya.



Lama kemudian, si anak itu menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, ia bermimpi dan mendapat petunjuk daripada Allah mengapa wanita mudah sekali menangis.



Saat Allah menciptakan wanita, Dia membuat menjadi sangat penting.



Allah ciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun, bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.



Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan zuriat dari rahimnya. Dan sering kali pula menerima cerca daripada anaknya sendiri.



Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa.



Wanita, Allah berikan kesabaran, untuk merawat keluarganya walau letih, sakit, lelah dan tanpa berkeluh-kesah.



Allah berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam situasi apa pun. Biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya.



Perasaan ini memberikan kehangatan kepada anak-anaknya yang ingin tidur. Sentuhan lembutnya memberi keselesaan dan ketenangan.



Dia berikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa kegentiran dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita?



Allah kurniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan wanita menilai tentang peranan kepada suaminya. Seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap saling melengkapi dan menyayangi.



Dan akhirnya, Allah berikannya airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita, agar dapat digunakan di mana ia inginkan.



Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata!



Ini airmata kehidupan.



Wallahu A'lam...


Kenapa KAU ANGGAP AKU Selalu Salah.. HIKS.hiks.. !!!!!

Mengapa kau berfiikir seperti itu...


Maafin aaku kak.. hiks..hiks... T_T



Sadar gak sadar, ada satu hal yang dapat menyebabkan hidup kita menjadi tidak bahagia, yaitu sering nya diri kita berfikir negatif. Semua hal dapat menjadi rumit jika kita selalu memikirkan sisi negatif dari segalanya. Pikiran-pikiran negatif dan kata-kata negatif yang kita keluarkan juga kita dengarkan secara tidak langsung dapat membuat hati ini juga menjadi negatif. Hal ini yang menyebabkan mengapa kita dilarang mempunyai prasangka negatif dalam ajaran islam. Memang susah untuk dapat hidup dengan selalu berfikiran positif, karena banyak sekali godaan baik dari diri kita sendiri maupun dari musuh kita syaitan yang sering membisikan hal-hal yang negatif. Hal-hal ini dapat menjadikan hati kita menjadi kotor, sedikit-demi sedikit kita menjadikan diri kita menjadi orang yang pesimis dalam hidup.



Diriku sempat memikirkan bahwa fikiran negatif itu dapat merusak segalanya. Kita berfikiran negatif kepada seseorang yang sebenarnya akan berbuat baik kepada kita. Mengapa kita selalu mengawali nya dengan fikiran negatif ? Mengapa tidak diawali dengan fikiran positif ? Kita berusaha untuk melakukan suatu pekerjaan untuk mendapatkan sesuatu yang kita harapkan, pasti tidak sedikit fikiran-fikiran negatif kita selalu muncul, misal kalo gagal nanti gimana ? , kalo gak sesuai nanti gimana ? kalo tidak bisa nanti gimana ? dan masih banyak fikiran-fikiran negatif yang muncul di awal kita hendak melakukan suatu pekerjaan. Sehingga mungkin lama kelamaan malaikat yang bersama kita mencatat dan menjadikan itu sebagai doa yang buruk bagi diri kita sendiri. Karena selalu berfikir negatif akhirnya Allah SWT pun mengabulkan hal negatif yang kita fikirkan tersebut. Mengapa kita tidak berfikir positif saja dengan segalanya?



Kalau kita rasakan saja, kita akan lebih senang bergaul dengan manusia yang selalu optimis dan selalu positif. Baik pemikiran positif, kata-kata yang keluar dari mulut nya selalu positif dan hal-hal yang bersifat tidak negatif lainnya. Kita sebenarnya fitrahnya tidak akan pernah bisa bahagia dengan pemikiran-pemikiran, prasangka-prasangka, kata-kata yang negatif yang dapat menjadikan kita melakukan hal-hal yang negatif.



Saya dapat membayangkan kedamaian yang luar biasa dalam hidup ini jika semua orang hanya mempunyai pemikiran dan tindakan yang positif. Satu hal yang tidak boleh kita lupa, bahwa hidup kita ini sudah ada yang mengatur segalanya. Yang Maha Pencipta sesungguhnya telah mempunyai aturan dan rencana untuk hidup kita di dunia ini. Jadi mengapa kita selalu berfikiran negatif kepada sang pencipta ? Memikirkan hal-hal yang tidak perlu kita fikirkan, memikirkan apa yang akan terjadi di hari nanti atau esok. Sehebat itukah kita sehingga kita dapat berbuat demikian, apa hak kita untuk melakukan hal demikian. Jika kita hidup selalu positif, pastinya tidak akan gelisah dan khawatir dengan hal-hal yang negatif yang akan terjadi pada diri kita, karena kalaupun hal-hal yang negatif itu terjadi pada diri kita yakinlah Tuhan pasti sudah menyiapkan hal yang jauh lebih positif untuk diri kita. Karena Dialah yang mengatur segala nya tentang diri kita. Dan ada hal lain yang harus kita ingat, bahwa Allah SWT tidak akan pernah menganiaya hamba nya sedikitpun, semua kebaikan termasuk di dalamnya kita selalu berfikir positif pasti akan diketahuinya dengan baik. Dan dijadikannya hal tersebut menjadi doa bagi orang-orang yang selalu berserah diri kepadanya dengan selalu berfikiran baik dan positif kepada Tuhannya.



Mari kita sama-sama untuk selalu berfikiran positif dalam menjalani kehidupan dunia ini. Sedikit demi sedikit kita hilangkan semua pikiran yang negatif. Mungkin dengan cara :



1. Selalu berfikiran Positif kepada Allah SWT dengan terus menggali Alquran

2. Selalu berfikiran dan berprasangka baik/positif kepada sesama manusia

3. Jangan pernah memikirkan sesuatu negatif yang belum terjadi.

4. Selalu mengeluarkan kata-kata yang positif ketika berbicara

5. Jangan pernah mengeluarkan kata-kata negatif ketika berbicara

6. Mencoba untuk Berfikir selalu positif sehingga dapat menghasilkan perkataan, pemikiran dan perbuatan yang positif.





Hal tentang being positive ini merupakan sesuatu yang sangat indah, yang dapat menjadikan kita hidup dengan tentram. Makannya gak heran dijadikan motto diriku di tahun 2007 ini. "Be Positive and Feel Good !!"

No more negative ....


KEUTAMAAN SAHABAT

Dari Abu Sa'id al-Khudri, Rasulullah saw bersabda: Akan datang suatu masa kepada manusia, dimana sekelompok orang berangkat berperang lalu ditanyakan: “Adakah diantara kalian yang termasuk sahabat Nabi?” Maka mereka menjawab: “Ya”. Lalu dibukakanlah (kemenangan bagi mereka). Kemudian datang suatu masa kepada manusia, dimana sekelompok orang berangkat berperang, lalu mereka ditanya: “Adakah diantara kalian yang bertemu dan berkawan dengan sahabat Nabi (tabi’in)?” Maka mereka menjawab: “Ya”. Lalu dibukakanlah (kemenangan bagi mereka). Kemudian datang suatu masa kepada manusia, dimana sekelompok orang berangkat berperang lalu ditanya: “Adakah diantara kalian yang berkawan dengan orang yang bertemu dan berkawan dengan sahabat Nabi (tabi’ut tabi’in)?” Maka mereka menjawab: “Ya”. Lalu dibukakanlah (kemenangan bagi mereka).




Dari Imran bin Hushain ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Sebaik-baiknya umat adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya.



Imran berkata, “Aku tidak tahu apakah beliau menyebut dua atau tiga generasi setelah generasi beliau saw, kemudian setelah generasi kalian ada satu kaum yang bersaksi tapi tidak layak diminta persaksian, mereka tidak jujur, dipandang tidak dapat dipercaya, mereka diperingati tapi tidak menetapi, dan nampak kegemukan dalam diri mereka”





Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, berkata, Nabi saw bersabda: Janganlah kalian mencaci sahabatku. Seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya (hal itu) tidak akan sebanding dengan infak satu mud emas sahabatku, (dan bahkan) tidak (akan sebanding dengan infak) setengah mud emas (mereka).







Rasulullah saw bersabda: Demi Allah, Allah melindungi para sahabatku. Janganlah kalian merusak kehormatannya setelahku. Barangsiapa mencintai mereka, maka dengan cintaku aku mencintainya, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku aku membencinya. Barangsiapa yang menyakitinya, maka sungguh dia telah menyakitiku, dan barangsiapa yang membenciku, maka sungguh ia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa yang menyakiti Allah maka dipastikan ia akan segera disiksa oleh-Nya.



Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Nabi Muhammad saw mendaki ke Gunung Uhud, beliau berangkat bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman. Sekonyong-konyong Gunung Uhud bergetar, lalu beliau saw menghentakkan kakinya, seraya bersabda: Diamlah wahai Uhud, yang ada diatasmu ini tidak lain adalah seorang Nabi, as-Shiddiq (gelar Abu Bakar), dan dua orang yang gugur sebagai syahid (Umar dan Utsman).



Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Ketika aku tidur, aku bermimpi melihat diriku berada di samping suatu sumur, yang diatasnya terdapat sebuah timba. Timba itu kemudian dilepaskan dengan kehendak Allah. Lalu Ibnu Abi Quhafah mengambilnya dan menimba satu atau dua timba penuh air. Ketika menimba ia merasa lemah, semoga Allah mengampuni kelemahannya, lalu timba kecil itu diganti dengan timba yang besar, kemudian diambil oleh Umar bin Khaththab, dan aku belum pernah melihat orang hebat yang bisa menimba sebanyak Umar, hingga membuat orang-orang minum dan menderum sepuasnya.







Dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwasanya ia berwudlu di rumahnya, lalu keluar seraya berkata: “Aku harus menemani Rasulullah saw, dan (berada) bersamanya selama hari ini”. Lalu aku mendatangi masjid dan menanyakan beliau saw, para sahabat berkata: “Beliau saw keluar dan menuju kearah sana”. Aku pun keluar tidak lama sesudah beliau saw keluar, hingga beliau saw memasuki mata air Aris. Kemudian aku menunggunya disamping pintu sumur yang terbuat dari pelepah kurma, hingga Rasulullah saw selesai menunaikan hajatnya. Beliau kemudian berwudlu, lalu aku berdiri menghampirinya. Saat itu beliau sedang duduk diatas bagian yang kering dari sumur tersebut, beliau menyingkapkan kain dari kedua betisnya dan menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Lalu aku mengucapkan salam kepadanya, kemudian pergi dan duduk di samping pintu. Aku katakan bahwa aku akan menjadi penjaga pintu bagi Nabi pada hari ini. Kemudian Abu Bakar datang dan mendorong pintu, lalu aku bertanya, “Siapa ini?”. Ia menjawab, “Abu Bakar”. Aku berkata: “Pelan dan hati-hatilah”. Kemudian aku pergi dan berkata: “Wahai Rasulullah, Abu Bakar meminta ijin masuk”. Belliau saw bersabda: “Ijinkanlah dia (masuk), dan berilah kabar gembira bahwa surga diperuntukkan baginya”. Lalu aku berbalik pergi, dan berkata kepada Abu Bakar: “Masuklah engkau dan Rasulullah saw memberikan kabar gembira bahwa surga diperuntukkan bagimu”. Abu Bakar masuk dan duduk di sebelah kanan Rasullllah saw, Abu Bakar menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, dan menyingkapkan kain dari kedua betisnya. Aku kembali dan duduk di tempat semula, aku tinggalkan temanku itu berwudlu dan menyusulku, aku berkata: “Jika Allah menginginkan kebaikan pada seseorang, maka dia menginginkan saudaranya datang.” Setelah itu seseorang menggerakkan pintu, melihat itu aku bertanya: “Siapakah ini?” Orang itu menjawab: “Umar bin Khaththab”. Aku berkata: “Pelan dan hati-hatilah”. Kemudian aku pergi dan berkata: “Wahai Rasulullah, Umar meminta ijin masuk”. Belliau saw bersabda: “Ijinkanlah dia (masuk), dan berilah kabar gembira bahwa surga diperuntukkan baginya”. Lalu aku berbalik pergi dan berkata kepada Umar: “Masuklah engkau, dan Rasulullah saw memberikan kabar gembira bahwa surga diperuntukkan bagimu.” Maka Umar pun masuk dan duduk disebelah kiri Rasulullah saw di tanah kering tersebut. Aku pun kembali dan duduk di tempat semula, dan berkata: “Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seseorang, maka dia akan datang.” Setelah itu seseorang datang menggerakkan pintu, aku bertanya: “Siapakah ini?” Ia berkata, “Utsman bin Affan”. Aku berkata: “Pelan dan hati-hatilah”. Kemudian aku pergi dan berkata: “Wahai Rasulullah, Utsman meminta ijin masuk”. Belliau saw bersabda: “Ijinkanlah dia (masuk), dan berilah kabar gembira bahwa ia akan masuk surga atas musibah yang menimpanya”. Lalu aku berbalik pergi dan berkata kepada Utsman: “Masuklah engkau, dan Rasulullah saw memberikan kabar gembira bahwa engkau akan masuk surga atas musibah yang menimpamu”. Utsman pun masuk, dan didapatinya tempat yang kering itu telah penuh, lalu ia duduk menghadap Rasulullah saw dari sisi yang lain.



Syuraik bin Abdullah berkata: Sa'id bin Musayyab berkata: “Maka aku menakwilkan peristiwa itu dengan pemakaman mereka.” Dari Barra ra, ia berkata: Nabi saw bersabda: Orang Anshar tidak akan dicintai kecuali oleh orang mukmin, dan tidak akan dibenci kecuali oleh orang munafik. Maka, barangsiapa mencintai mereka, ia akan dicintai oleh Allah, dan barangsiapa yang membenci mereka maka ia akan dibenci oleh Allah. Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw, beliau bersabda: Tanda keimanan seseorang adalah cinta kepada kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah benci kepada kaum Anshar

Ikut Serta dalam Natal Bersama: Haram Hukumnya!

Pada bulan Desember ini, tidak sedikit diantara kalangan kaum Muslim yang ikut bersama dalam perayaan hari Natal, padahal Natal merupakan hari raya umat Kristiani. Dengan dalih toleransi, kerukunan dan sebagainya diantara mereka malah melegalkan aktivitas yang haram ini, tanpa lagi melihat bagaimana syariat memandang masalah ini. Bahkan bila tidak ikut natal bersama, kaum Muslim dikesankan tidak toleransi dan tidak membangun kerukunan. Padahal hal ini terkait pada masalah akidah dan ibadah.




Tidak sedikit juga, sebagian kalangan umat Islam ikut serta dalam kepanitiaan Natal Bersama termasuk di dalamnya mengamankan hari Natal tersebut. Bahkan ada indikasi seolah-olah umat Islam senantiasa memberikan teror dan gangguan pada perayaan natal ini. Maka para pemuda Muslim ikut-ikutan ambil bagian untuk mengamankan perayaan natal tersebut. Padahal, kaum Muslim biasa saja tidak terjadi sesuatu apa pun yang membahayakan mereka.



Ada juga sebagian umat Islam yang salah mengartikan bahwa mereka menyangka dengan ikut merayakan Natal bersama dianggap sama dengan merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. Padahal perayaan Natal bagi orang-orang Kristiani merupakan suatu ibadah. Akibatnya terjadilah pencampuradukkan antara akidah dan ibadah kaum Muslim dengan akidah dan ibadah agama lain.



Majelis Ulama Indonseia (MUI) sebagai kumpulannya para ulama Indonesia telah menerangkan keharaman ikut merayakan Natal Bersama. Pada tahun 1982, MUI telah memberikan penjelasan, terutama ketika meneliti kembali ajaran-ajaran agama Islam, antara lain sebagai berikut.



Pertama, bahwa umat Islam diperbolehkan untuk bekerjasama dan bergaul dengan umat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan al-Quran surat al-Hujurat ayat 13:



يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِي





"Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (TQS. al-Hujurat: 13)



Juga berdasar al-Quran surat Mumtahanah ayat 8:



لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ



"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." (TQS. Mumtahanah: 8)



Kedua, bahwa umat Islam tidak boleh mencampuradukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan al-Quran surat al-Kafirun ayat 1-6:



"Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (TQS. al-Kafirun: 1-6)



Juga berdasar al-Quran surat al-Baqarah ayat 42:



وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ



"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu Mengetahui." (TQS. al-Baqarah: 42)



Ketiga, bahwa umat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al-Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain, berdasarkan atas al-Quran surat Maryam ayat 30-32:



قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيّاً وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً وَبَرّاً بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّاراًشَقِيّاً



"Berkata Isa: "Sesungguhnya Aku Ini hamba Allah, dia memberiku Al Kitab (Injil) dan dia menjadikan Aku seorang nabi, Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup; Dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong lagi celaka." (TQS. Maryam: 30-32)



Juga berdasar pada al-Quran surat al-Maidah ayat 75:





مَّا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلاَنِ الطَّعَامَ انظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الآيَاتِ ثُمَّ انظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ



"Al masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang Sesungguhnya Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu)." (TQS. al-Maidah: 75)



Juga berdasarkan al-Quran surat al-Baqarah ayat 285:





آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ



"Rasul Telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (TQS. al-Baqarah: 285)



Keempat, bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak Isa al-Masih itu anaknya, bahwa orang kafir dan musyrik, berdasarkan atas al-Quran surat al-Maidah ayat 72:



لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ



"Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." (TQS. al-Maidah: 72)



Juga pada surat al-Maidah ayat 73:





لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُواْ إِنَّ اللّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَـهٍ إِلاَّ إِلَـهٌ وَاحِدٌ وَإِن لَّمْ يَنتَهُواْ عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ



"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih." (TQS. al-Maidah: 73)



Kelima, Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab "tidak". Hal itu berdasarkan atas al-Quran surat al-Maidah ayat 116 - 118:



وَإِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلاَّ مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيداً مَّا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ



"Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib". Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah Aku menjadi saksi terhadap mereka, selama Aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (TQS. al-Maidah: 116-118)



Keenam, Islam mengajarkan bahwa Allah Swt. itu hanya satu, berdasarkan atas al-Quran surat al-Ikhlas:



قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ



"Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (TQS. al-Ikhlash: 1-4)



Ketujuh, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt. serta mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan. Hal ini berdasarkan atas Hadits Nabi Saw. dari Nu'man bin Basyir:



"Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh pada yang haram, semacam orang menggembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati)." Dan berdasarkan kaidah ushul fiqh: "Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahatan (jika tidak demikian sangat mungkin mafasidnya yang diperoleh, sedangkan masholihnya tidak dihasilkan." (Hadits Dari Nu'man bin Basyir)



Berdasarkan hal tersebut para 'ulama di Indonesia yang mukhlish melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI), melalui komisi fatwanya, yang diketuai oleh K.H. M. Syukri G. dan sekretarisnya Drs. H. Mas'udi di Jakarta pada 1 Jumadil Awal 1401 H atau bertepatan dengan 7 Maret 1981 memutuskan dan memfatwakan, bahwa:



Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As. akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal di atas.

Mengikuti upacara Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya haram.

Agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt. dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.

Dengan demikian sangat jelas, keharaman bagi siapa saja kaum Muslim termasuk di dalamnya para tokoh dan pejabat negara haram untuk duduk bersama dalam perayaan Natal Bersama. Lalu mengapa masih ada diantara kaum Muslim yang malah ikut dalam perayaan Kristiani tersebut? Berpaling dari petunjuk di atas berarti berpaling dari ayat-ayat Allah dan merupakan perbuatan penentangan terhadap Allah Swt. yang telah menciptakan alam semesta raya ini. Hanya siksaan yang pedih yang akan menimpanya, naudzu billahi min dalik. Semoga kaum Muslim senantiasa diberikan kekuatan untuk menerima kebenaran dan dijauhkan dari kezaliman. Amin.

 
 
Saudara-saudariku, marilah sejenak kita renungkan firman Allah Swt;


“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imron : 85)



Memberi ucapan selamat atau perayaan hari raya agama selain Islam pada mereka adalah sesuatu yang diHARAMkan. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala. Ketika mengucapkan berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat.

... Lihat Selengkapnya

Rasulullah Saw sendiri tidak pernah melakukan dan mengajarkan kepada kita. Jadi sebagai umat Rasulullah Saw hendaknya kita tidak melakukan apa yang tidak Rasulullah Saw ajarkan kepada kita.



1. Kita kaum muslimin diharamkan menghadiri perayaan orang kafir termasuk di dalamnya adalah perayaan Natal. Bahkan mengenai hal ini telah dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia sebagaimana dapat dilihat dalam fatwa MUI yang dikeluarkan pada tanggal 7 Maret 1981.



2. Kaum muslimin juga diharamkan mengucapkan ’selamat natal’ kepada orang Nashrani dan ini berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.

Cukup ijma’ kaum muslimin ini sebagai dalil terlarangnya hal ini. Yang menyelisihi ijma’ ini akan mendapat ancaman yang keras sebagaimana firman Allah Ta’ala;



“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Qs. An Nisa’ [4]: 115).



Oleh karena itu, yang mengatakan bahwa Al Qur’an dan Hadits tidak melarang mengucapkan selamat hari raya pada orang kafir, maka ini pendapat yang keliru.

Karena ijma’ kaum muslimin menunjukkan terlarangnya hal ini. Dan ijma’ adalah sumber hukum Islam, sama dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Ijma’ juga wajib diikuti sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa ayat 115 di atas karena adanya ancaman kesesatan jika menyelisihinya.



3. Jika diberi ucapan selamat natal, tidak perlu kita jawab (balas) karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala.



4. Tidak diperbolehkan seorang muslim pergi ke tempat seorang pun dari orang-orang kafir untuk mengucapkan selamat hari raya.



5. Membantu orang Nashrani dalam merayakan Natal juga tidak diperbolehkan karena ini termasuk tolong menolong dalam berbuat dosa.



6. Diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan dalam rangka mengikuti orang kafir pada hari tersebut.



Demikian untuk dapat saling mengingatkan kepada keluarga, saudara dan sahabat-sahabat kita.

Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.