Sabtu, 19 Desember 2009

Kisah Zulaikha dan Nabi Yusuf

Bismillah




Saudara dan Saudari yang diRahmati Allah,dalam menjalani hidup sudah tentu banyak sekali cobaan dan ujian yang ditujukan kepada kita sebagai tanda sebuah kasih sayang Rabb kepada hamba-Nya.



ada sebuah cerita yang sudah tidak asing lagi bagi kita selaku mu'min,sebuah kisah yang akan memberikan banyak hikmah bagi kita dan semoga Allah selalu menjauhkan kita dari kebodohan. yaitu,kisah Cinta antara Zulaikha dan Nabi Yusuf AS





Zulaikha



Berat sungguh malam yang panas itu dirasakan oleh Ra’il, wanita cantik yang biasa dipanggil dengan nama Zulaikha. Ia senantiasa mempercantik paras, menghias diri, dan memakai wangi-wangian. Kemudian berdiri, pagi dan petang, di beranda istananya di atas

Sungai Nil, dalam kegelisahan yang tak jelas penyebabnya. Angin sepoi bertiup tenang dan halus, seakan enggan mengusik ranting-ranting pohon bunga yang mengelilingi beranda istana itu, Zulaikha memandangi sungai dan airnya yang tenang, dan sesekali wajahnya menoleh ke atas, melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit nan tinggi, mengelilingi bulan yang sebahagian sinarnya terhalang oleh awan.



Sesaat kemudian, seorang pelayan menghampiri dengan segelas sari buah dingin untuknya, tetapi sang puteri menolak dan malah memerintahkan pelayan itu untuk kembali. Nafasnya semakin menyesakkan, serasa hampir-hampir mencekik lehernya. Dia sendiri tidak

tahu apa yang digelisahkannya. Kecantikan? Bukan! Dia wanita tercantik di seluruh Mesir. Anak? Mungkin itu benar, sebab sampai saat ini ia belum dikurniai seorang anak pun. Sebenarnya ia dapat saja mengambil anak angkat yang disukainya, sebab ia orang terkaya di negeri itu. Tapi naluri keibuannya ternyata menentang niatnya. Dia ingin mengandung dan melahirkan puteranya sendiri, sebagaimana wanita-wanita lain. Tapi suratan takdir menghendaki lain, suaminya tidak kuasa mengubah impiannya menjadi kenyataan.



Berkecamuklah semua fikiran itu di kepalanya. Ia terlena dalam lamunannya, sampai suara halus suaminya tiba-tiba mengejutkan hatinya. “Ra’il, isteriku yang cantik, bergembiralah!” Kata suaminya sambil menunjukkan sesuatu. Zulaikha menoleh kepada suaminya, dan betapa terkejut ketika ia lihat suaminya datang bersama seorang anak kecil.



“Siapa namamu?” tanya Zulaikha.

Dengan suara yang hampir-hampir tidak terdengar, anak itu menjawab, “Yusuf”.



Al-Aziz, suami Zulaikha, kemudian mengikutinya dari belakang serta berkata, “Telah kubeli ia dari kafilah yang didapati disebuah telaga di padang pasir. Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi ia bermanfaat bagi kita, atau kita pungut ia sebagai anak”.



Isteri al-Aziz tidak mengetahui takdir apa yang bakal terjadi antara dia dan anak itu di hari-hari yang akan datang. Yang jelas ia merasa senang atas kedatangan anak itu, dan hilanglah

kesedihan yang selama ini menghimpit dadanya. Hari-hari berlalu. Yusuf semakin besar dan menjadi dewasa. Wajahnya tampak semakin tampan. Isteri Aziz tidak mengerti kebahagiaan

apa yang meresap di hatinya setiap kali ia memandang Yusuf, dan kesedihan yang menghantuinya ketika Yusuf hilang dari pandangannya. Setiap kali malam tiba, dan Yusuf pergi ke kamar tidurnya, Zulaikha merasa ada sesuatu yang mengusik lubuk jiwanya, sehingga

kadang kala ia bangun meninggalkan suaminya yang sedang tidur, kemudian pergi ke pintu kamar Yusuf. Zulaikha berdiri di pintu kamar Yusuf beberapa saat. Dalam hatinya timbul keraguan: apakah sebaiknya ia masuk menemui Yusuf seperti yang diinginkannya,

ataukah ia kembali ke tempatnya sendiri di samping suaminya. Fikiran seperti itu selalu mengganggu hatinya semalaman, sampai cahaya matahari pagi terlihat masuk melalui jendela-jendela kamarnya. Jika sudah demikian, ia kembali ke kamar suaminya.



Setiap kali pandangannya bertemu dengan pandangan Yusuf, ia merasakan keinginan yang kuat untuk selalu berada dekat pemuda itu, dan tak ingin rasanya berpisah untuk selama-lamanya. Namun, hati kecilnya berkata bahawa Yusuf tidak memendam perasaan

yang sama seperti perasaannya. Pertanyaan yang selalu mengusik kalbunya adalah: Apakah Yusuf mencintainya sebagaimana ia mencintai Yusuf? Apakah Yusuf memendam perasaan seperti yang dipendamnya? Meskipun hati kecilnya berkata bahawa Yusuf tidak menampakkan sikap seperti itu, ia tidak mahu mendengar jawapan itu. Pada suatu petang, isteri Aziz merasa tidak kuasa lagi hanya berdiri di ambang cinta yang disimpannya kepada Yusuf. Ia kemudian berdiri dimuka cermin, mengagumi kecantikan parasnya, seraya berkata kepada dirinya sendiri, “Adakah, di seluruh Mesir ini, wanita yang kecantikannya melebihi kecantikanku, sehingga Yusuf menghindar dariku? Tidak boleh tidak, wahai, Yusuf, hari ini aku akan menjumpaimu dengan segala macam bujukan dan rayuan, sampai engkau tunduk kepadaku”.



Kemudian ia membuka lemari, dan matanya mengamati setumpuk pakaian di dalamnya. Dipilihnya salah satu gaunnya yang paling indah, berwarna merah dengan model yang membangkitkan ghairah laki-laki. Manakala gaun itu dikenakan, maka sebahagian auratnya yang seharusnya tersembunyi akan tampak. Itulah yang justeru dikehendakinya. Kemudian ia memakai wangi wangian di sekujur tubuhnya, yang menyebabkan seorang lelaki akan berghairah kerana baunya. Setelah itu, ia atur rambutnya seindah-indahnya di malam yang sunyi itu. Setelah menyelesaikan dan menyempurnakan dandanannya, Zulaikha mengamati sekelilingnya, hingga ia benar-benar yakin bahawa tidak ada seorang pun pelayannya yang masih menunggunya di situ; semuanya sudah lelap di kamarnya masing-masing di kegelapan malam itu. Ia pun tahu bahawa suaminya sedang memenuhi panggilan seorang hakim Mesir dan sibuk dengan urusan-urusannya, sehingga tidak mungkin ia akan kembali sebelum fajar pagi tiba. Setelah segalanya beres, pergilah ia menuju kamar Yusuf. Didapatinya pintu kamar itu tertutup dan lampunya sudah dimatikan. Dengan perlahan ia mengetuk; satu kali, dua kali … dan tiga kali. Tak lama kemudian, Yusuf pun bangun menyalakan lampu dan membukakan pintu. Alangkah terkejutnya Yusuf ketika ia melihat isteri al-Aziz sudah berada di hadapannya. Tapi ia tidak berkata apa-apa kecuali hanya diam menunduk. Tiba-tiba Zulaikha masuk ke dalam, mendekatinya dengan ramah, dan memegang tangannya sambil menutup pintu kamar. Zulaikha merasakan kegelisahan, ketakutan, dan tak boleh menjawab pandangan kedua mata Yusuf. Ia lalu berpaling ke arah Yusuf, sedangkan Yusuf selalu berusaha menjauh darinya. Isteri al-Aziz kemudian berkata, “Apakah maksud semua ini, hai, Yusuf? Janganlah engkau menjauh dariku, sehingga aku binasa kerana rindu kepadamu”. Yusuf diam tanpa jawapan. Isteri al-Aziz mendekatinya lagi seraya berkata, “Aduhai, Yusuf,

betapa indahnya rambutmu!”

Yusuf menjawab, “Inilah sesuatu yang pertama kali akan

berhamburan dari tubuhku setelah aku mati”.

“Aduhai, Yusuf, betapa indahnya kedua matamu!” Bujuk isteri al-Aziz

lagi.

“Keduanya ini adalah benda yang pertama kali akan lepas dari

kepalaku dan akan mengalir di muka bumi!”

Isteri al-Aziz berkata lagi, “Betapa tampannya wajahmu, hai, Yusuf”.

“Tanah kelak akan melumatnya,” Jawab Yusuf.

Kemudian Zulaikha berkata kepadanya, “Telah terbuka tubuhku

kerana ketampanan wajahmu”.

“Syaitan menolongmu untuk berbuat hal itu!” Kata Yusuf.

“Yusuf! Bagaimanapun aku harus mendapatkan apa yang selama ini

kudambakan, dan kini aku datang kerananya”. Kata Zulaikha.

Yusuf menjawab: “Ke manakah aku akan lari dari murka Allah jika

aku menderhakaiNya?”

Sedarlah isteri al-Aziz bahawa Yusuf benar-benar tidak mahu

memenuhi apa yang ia inginkan. Maka, ia pun lebih mendekat lagi,

dan meletakkan badan Yusuf di atas dadanya. Ia berharap Yusuf

akan tertarik kepadanya dan mahu memenuhi keinginannya. Akan

tetapi, di luar dugaannya, Yusuf malah menghindar darinya dan

segera berlari hendak keluar dari kamar itu.

Isteri al-Aziz tak habis berfikir mengapa Yusuf sedemikian

keras mempertahankan kesuciannya di hadapan wanita cantik yang telah

siap melayaninya, bahkan lari menjauh darinya. Ia lalu mengejar

Yusuf dari belakang untuk memaksanya. Ketika sudah sangat dekat,

dipegangnyalah bahagian belakang baju Yusuf dan ditariknya

kuat-kuat. Dengan penuh kemarahan, ia melarang Yusuf keluar dari

kamar. Akhirnya, koyaklah bahagian belakang baju Yusuf.

Pada saat yang sama, tiba-tiba al-Aziz sudah berada di

hadapan mereka berdua, bersama saudara sepupu Zulaikha. Dengan serta

merta isteri al-Aziz berkata: “Apakah hukuman bagi orang yang

akan berbuat serong kepada isterimu, selain dipenjarakan atau

(dihukum) dengan seksaan yang pedih?” Dengan perkataan itu,

Zulaikha bermaksud menyatakan bahawa Yusuf telah berbuat yang

melampaui batas atas dirinya.

Al-Aziz sangat marah atas terjadinya peristiwa memalukan

itu. Kerana tidak menduga hal itu dilakukan oleh Yusuf, seorang anak

terlantar yang telah dibelinya, dipeliharanya, dan dikasihinya

seperti kasih sayang seorang ayah kepada puteranya sendiri. Tidak

mungkin hal itu boleh terjadi?

Yusuf sedar bahawa isteri al-Aziz telah berkata dusta

tentang dirinya dan menuduhnya dengan tuduhan palsu. Maka, segeralah

Zulaikha berkata kepada al-Aziz: “Dia menggodaku untuk

menundukkan diriku (kepadanya)”.

Allah ternyata menghendaki bebasnya Yusuf dari tuduhan wanita

itu. Seorang bayi yang masih menyusu, anak salah seorang keluarga

Zulaikha yang ketika itu datang ke istana, tiba-tiba berkata,

“Jika bajunya koyak di bahagian muka, maka wanita itulah yang benar

dan Yusuf termasuk orang-orang dusta. Dan jika bajunya koyak di

bahagian belakang, maka wanita itulah yang dusta dan Yusuf

termasuk orang-orang yang benar”.

Mendengar itu, segeralah al-Aziz menghampiri Yusuf untuk

melihat bajunya. Demi didapatinya baju Yusuf koyak di bahagian

belakang (kerana tarikan isterinya), mengertilah al-Aziz akan

pengkhianatan isterinya dan bersihnya Yusuf dari tuduhan itu. Kemudian

ia berkata: “Sungguh, inilah tipu muslihatmu. Sungguh dahsyat

tipu muslihatmu!” Kemudian ia memandang Yusuf seraya berkata: “Hai,

Yusuf,

berpalinglah dari ini!” Maksud perkataan itu adalah agar Yusuf tidak

memberitakan aib yang terjadi atas diri isterinya itu, sehingga

tidak terdengar oleh orang ramai. Sedangkan kepada isterinya ia

berkata: “Dan (kamu, hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu

itu, kerana sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang berbuat

salah”.

“Celakalah kamu, Yusuf!” Kata isteri al-Aziz dengan kemarahan

yang memuncak, kerana Yusuf menolak kecantikan dan kebesarannya.

“Tidak! aku tak akan membiarkanmu, Yusuf. Bagaimana pun akan

kucari jalan lain yang dapat mempedayakanmu, hingga kamu

memenuhi apa yang kukehendaki…”

Hari-hari pun berlalu, dan al-Aziz yang kalah dalam urusan

itu berusaha memohon kerelaan isterinya menghadapi kenyataan itu,

sementara sang isteri menyanggahnya dengan dalih bahawa suaminya

telah menjatuhkan martabat dan kemuliaannya. Zulaikha tahu

benar bahawa setiap kali ia menampakkan kebenciannya kepada

suaminya, sang suami benar-benar berusaha mendekati dan

membujuknya kerana ia sangat mencintainya dan merasa lemah di

hadapan kecantikan wajahnya dan ketinggian peribadinya, yang

sebenarnya bersifat mulia.

Yusuf sendiri akhirnya berdiam sepanjang hari di dalam

kamarnya, kerana peristiwa aib itu terjadi di situ. Ia tidak keluar

dari

kamarnya kecuali ada suatu pekerjaan penting yang ditugaskan

oleh tuannya, al-Aziz.

Hari-hari yang berat dan keras selalu menghantui isteri

al-Aziz. Ia menanti datang suatu peluang untuk kembali melakukan tipu

dayanya atas diri Yusuf, sebab apa yang baru terjadi itu justeru

menambah rasa cinta dan keinginan untuk berhubungan dengan

Yusuf, meskipun secara terang-terang ia telah berdusta atas diri

Yusuf untuk menghilangkan keraguan suaminya terhadapnya.

Hari demi hari dirasakan oleh isteri al-Aziz dengan berat

dan terasa lambat berjalan. Di kota, beberapa peristiwa yang tak

terduga

telah terjadi. Wanita-wanita di Mesir, ketika itu, tidak

berkeinginan bicara lain kecuali tentang peristiwa aib antara isteri

al-Aziz dan

Yusuf. Yang sungguh menghairankan, bagaimana peristiwa itu dapat

tersebar di seluruh kota, padahal semua pihak di istana al-Aziz

berusaha merahsiakannya.

Dugaan sementara dialamatkan kepada pelayan laki-laki istana

dan sebahagian pelayan wanita yang masih ada hubungan keluarga

dengannya. Besar kemungkinan, merekalah yang membocorkan rahsia itu.

Langit ibu kota Mesir penuh dengan gema kisah sekitar

kejadian itu. Dalam setiap kelompok wanita, tidak ada masalah lain

yang

dibicarakan kecuali tentang isteri al-Aziz dan Yusuf, semuanya

dicurahkan tanpa segan silu.

Akhirnya, sampailah berita yang menyakitkan itu ke telinga

isteri al-Aziz. Dan tentu saja hal itu menimbulkan kemarahannya yang

luar

biasa. Akan tetapi, apa hendak dikata, ia tidak dapat berbuat

apa-apa kecuali menerima kenyataan itu dengan hati yang semakin pedih.

“Betapa perjalanan hidupku menjadi sepotong roti dalam mulut

wanita-wanita kota yang dipenuhi cemuhan dan ejekan.” Keluhnya

dalam hati, “padahal, di hari-hari kemarin, tak seorangpun dari

mereka berani menyebut namaku kecuali dengan segala penghormatan

dan kemuliaan”. Kemudian ketenangan mulai meresap di hati isteri

al-Aziz,

setelah jiwanya tergoncang kerana kemarahan. Mulailah ia berbicara

kepada dirinya sendiri:“ Aku wanita, dan mereka pun wanita.

Harus mereka terima hinaan sebagaimana hinaan yang mereka tujukan

kepadaku. Jika mereka memperolok-olokku dengan lidahnya, maka

sesungguhnya olok-olokku nanti lebih keras atas diri mereka…”

Maka, keluarlah dia dari kamarnya menuju beranda istananya yang

menghadap Sungai Nil.

Di tepian sungai itu, ia mulai berfikir, sementara angin

lembut menerpa pepohonan bunga yang mengelilingi istana, membuat

harum udara di sekitarnya. Isteri al-Aziz mulai merenung;

fikirannya berputar ke sana kemari, mengikuti alunan ombak sungai yang

tenang. Tak lama kemudian, wajahnya tampak sedikit berseri, kemudian

mulutnya tersenyum. Telah ditemukan satu cara untuk

membereskan masalah itu. Ya, mengapa ia tidak menghentikan

cemuhan wanita-wanita itu tentang dirinya dan Yusuf dalam suatu

pertemuan terbuka? Mengapa ia tidak memanggil wanita-wanita itu

untuk duduk bercakap-cakap seperti biasa ia lakukan sebelum ini,

lalu ia perintahkan Yusuf keluar (menampakkan diri di hadapan

mereka)? Nanti mereka akan sedar dan mengerti mengapa isteri al-Aziz

jatuh hati kepada anak angkatnya.

Kemudian dipanggilnya semua wanita itu ke istana untuk

bersukaria. Kepada mereka dipersembahkan berbagai macam

buah-buahan, dan masing-masing diberi sebilah pisau sebagai alat

pemotongnya. Akan dilihat oleh isteri Al-Aziz apa yang nanti bakal

terjadi ketika Yusuf muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah

mereka.

Hairanlah kebanyakan wanita bangsawan terhadap panggilan

isteri al-Aziz itu. Mereka menyaksikan suasana yang lain dari

biasanya. Ruangan istana, ketika itu, dihiasi dengan penuh

kemegahan. Wanita-wanita yang hadir duduk di kerusi yang indah. Di

hadapan mereka masing-masing terdapat sepinggan buah segar dan

sebilah pisau pemotongnya.

Semua pandangan hadirin ditujukan kepada barang-barang yang

ada dalam ruangan istana itu. Semuanya diam membisu, tak ada

yang berani berbicara dengan jelas tentang apa yang tersimpan di

dada dan mulailah isteri Aziz membuka acara. Pembicaraan hanya

berkisar tentang buah dan masalah-masalah pesta ria itu, sama

sekali jauh dari masalah peristiwa dirinya dengan Yusuf. Ia berkata

bahawa segala yang disediakannya kali ini dimaksudkan sebagai

kejutan bagi wanita-wanita itu.

Di antara wanita-wanita yang hadir dalam jamuan itu, ada

salah seorang yang menyindir. Dengan cara yang cerdik, ia berkisah

kepada hadirin tentang seorang pemudi yang jatuh cinta, dan mati

dalam kesedihan kerana laki-laki yang meminangnya tewas di

medan perang melawan musuh-musuh negerinya. Tetapi isteri

al-Aziz, dengan lebih cerdik, mengalihkan pembicaraan ke

masalah-masalah lain.

Kemudian ia berkata kepada Yusuf, “Keluarlah (tampakkanlah

dirimu) kepada mereka.” Maka, keluarlah Yusuf dari tempatnya menuju

jamuan

wanita-wanita itu. Betapa terkejutnya wanita-wanita itu demi melihat

ketampanan Yusuf. Mereka sama tercengang dan kehairanan. Dan

tanpa disedari, mereka memotong jari-jari mereka sendiri dengan

pisau. Mereka mengira sedang memotong buah, padahal tidak

dirasakan darah mengalir dari tangan mereka. Lama-kelamaan mereka

baru ingat dan menyedari apa yang telah mereka lakukan, kemudian

berkata, “Maha Besar Allah. Ini bukanlah manusia. Ia tiada lain

dari malaikat yang mulia”.

Ketika itu wajah isteri al-Aziz menahan sedih dan duka.

Berubahlah wajah nan cantik itu menjadi marah. Ia berkata seraya

menunjuk kepada Yusuf: “Itulah orang yang menyebabkan aku di

cela kerana (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya aku telah

menginginkan dirinya, tetapi ia menolak. Dan (sekarang) jika dia

tidak mentaati apa yang kuperintahkan, nescaya ia akan

dipenjarakan dan dia akan menjadi orang yang hina”.

Yusuf mendengar apa yang dikatakan oleh isteri Aziz dengan

sikap yang tenang dan tabah, di hadapan wanita-wanita kota. Ia pun

mendengar keinginan setiap wanita yang hadir, sebagaimana

keinginan isteri al-Aziz terhadapnya. Sambil berlindung kepada Allah,

Yusuf berkata, “Tuhanku! Penjara lebih kusukai daripada memenuhi

ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Allah hindarkan aku dari

tipu daya mereka, tentulah aku tertarik kepada mereka. Dan

tentulah aku termasuk orang yang jahil”. Allah meneguhkan

hamba-hamba-Nya yang mukmin serta berlindung dan berpegang

dengan kebenaran yang diperintahkan oleh-Nya …” Maka, Tuhan

memperkenankan doa Yusuf, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu

daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar,

Yang Maha Mengetahui”.

Pulanglah wanita-wanita kota itu dengan tangan mereka

berlumuran darah. Mereka semua akhirnya sedar bahawa Zulaikha, isteri

al-Aziz, terhalang cintanya kepada Yusuf. Yusuf, kemudian

meninggalkan ruangan itu dan pergi ke kamarnya. Isteri al-Aziz tampak

duduk sambil berfikir. Ia memang menghendaki kehinaan atas

wanita-wanita yang menghina dirinya dengan Yusuf, dan hal itu telah

selesai ia lakukan. Menanglah ia dengan suatu kemenangan yang

dapat menyembuhkan sakit hatinya.

Akan tetapi, setelah ia lebih dalam berfikir, ia sedari

bahawa perasaan yang ditanggungnya selama ini adalah suatu sebab yang

berat baginya. Ia berbicara dengan dirinya sendiri: “Yusuf telah

menghindar dariku dua kali; sekali dikamarnya dan sekali di hadapan

wanita-wanita kota. Sesungguhnya wanita-wanita kota itu pun

mencintai Yusuf sebagaimana aku, tetapi semuanya tidak memperoleh

sesuatu darinya. Ancamanku kepadanya tidak ditakutinya.

Celakalah kamu meskipun aku mencintaimu.”

Pergilah isteri al-Aziz menemui suaminya. Al-Aziz kemudian

bertanya tentang jamuan yang diadakannya. Isterinya menjelaskan

bahawa jamuan itu hanya menambah keburukan baginya.

“Bagaimana hal itu boleh terjadi?” Tanya Al-Aziz.

“Jika Yusuf tidak disembunyikan dari seisi istana dan kota, dia

akan selalu berbicara tentang apa yang memburukkanku…” Jawabnya.

Maka, mendekatlah al-Aziz kepada isterinya seraya berkata.

“Bagaimana engkau boleh rela dengan apa yang memburukkanmu?”

Gementarlah badan wanita itu, dan kemudian berkata: “Kalau

begitu, masukkanlah Yusuf ke dalam penjara, sehingga semua orang

akan melupakannya”.

Al-Aziz menyetujui usul isterinya itu. Tak lama kemudian,

beberapa pengawal istana membawa Yusuf ke penjara. Tatkala Yusuf

keluar dari pintu istana, isteri al-Aziz berdiri di belakang

jendela kamarya sambil memandanginya. Ia merasa seolah-olah sebahagian

dari hatinya tercabut, meskipun dialah yang mendesak suaminya

agar memasukkan Yusuf ke dalam penjara.

Saban hari berlalu, dan kesedihan selalu mewarnai wajah

isteri al-Aziz, sementara suaminya hanya boleh melihat hal itu dengan

sikap diam dan tidak kuasa berbuat sesuatu. Wanita itu bertanya

kepada dirinya sendiri: “Salahkah aku tatkala menyuruh al-Aziz

memasukkan Yusuf ke dalam penjara? Ya, kuharamkan diriku melihat

Yusuf… “Sekali lagi ia berfikir dalam kegelisahannya: “Tetapi,

apakah aku bersalah dalam urusan itu?” Ia menyanggah dirinya

sendiri untuk lepas dari azab, seperti seorang dermawan yang haus,

tetapi tidak sanggup menjangkau air yang dipikul di bahunya sendiri.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun

berjalan tanpa sunyi dari cerita isteri al-Aziz dengan Yusuf. Pada

suatu

hari, datanglah utusan raja, memerintahkannya untuk datang

keistana. Isteri al-Aziz sangat hairan, sebab hal itu belum terjadi

sebelumnya. Ia bertanya kepada suaminya apa kira-kira yang

menyebabkan sang raja memanggilnya ke istana.

Al-Aziz menjawab, “Mungkin ada urusan yang berhubungan dengan

Yusuf.”

Mendengar nama Yusuf disebut lagi, lenyaplah segala dugaan.

Tetapi, benarkah raja hanya berkehendak untuk berbicara

dengannya tentang Yusuf?

Dengan penuh pertanyaan di benaknya, pergilah isteri al-Aziz

menuju istana raja. Di sana didapatinya wanita-wanita yang telah

memotong tangannya beberapa waktu yang lalu, semuanya menghadap

Raja Mesir. Sementara itu, sang raja memandangi wajah para

wanita itu satu persatu, kemudian mengajukan pertanyaan singkat

kepada wanita-wanita itu: “Bagaimana keadaanmu ketika kamu

menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?”

Mereka menjawab serentak: “Kami tiada mendapati suatu keburukan

padanya (Yusuf)”. Tiba-tiba, tanpa diminta oleh Raja, isteri al-Aziz

berbicara. Ia merasa telah tiba saatnya untuk berbicara terus terang

perihal itu, agar

hilang semua beban dosa kerana tindakan aniayanya terhadap

Yusuf. Di hadapan Raja, wanita-wanita kota, dan seluruh yang hadir di

situ, ia menerangkan: “Sekarang jelaslah kebenaran itu. Akulah

yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan

sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar”.

(Yusuf berkata), “Yang demikian itu agar dia (al-Aziz)

mengetahui bahawa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di

belakangnya, dan bahawasanya Allah tidak merelai tipudaya

orang-orang yang berkhianat. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari

kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada

kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.

Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang”.

Terjadi perbedaan pendapat tentang kehidupan perempuan itu

selanjutnya. Sebahagian orang berpendapat bahawa sejak itu isteri

al-Aziz hidup bersama kesedihan dan putus asa kerana ingatannya

kepada Yusuf. Sebahagian yang lain berpendapat bahawa isteri

al-Aziz itu akhirnya pindah ke suatu tempat yang jauh, dan tiada

khabar beritanya sama sekali. Yang jelas, kehidupan wanita itu

menjadi terganggu, kerana cinta kepada Yusuf.

Namun ada yang mengisahkan setelah peristiwa itu Zulaikha

bertaubat kepada Allah SWT. Ketika Yusuf diutus menjadi Rasul dan

menjadi penguasa menggantikan Al-Aziz, Nabi Yusuf berjumpa

dengan Zulaikha yang ketika itu keadaannya sudah tua. Akhirnya Allah

menjadikan Zulaikha muda remaja dan berkahwin dengan Nabi Yusuf.

Maka jadilah Zulaikha sebagai seorang wanita yang solehah yang

sentiasa beramal kepada Allah SWT.

(Kisah Zulaikha ini dapat di baca dalam Al-Quran surah Yusuf ayat

21-53)

Tidak ada komentar: